Mengenal Tuhan dan TAHU DIRI — Catatan Khotbah Ibadah Raya 5 Juli 2026

Ps. Johan Lumoindong
Mengenal Tuhan dan TAHU DIRI
Lukas 17:11-19 — Perikop tentang kesembuhan sepuluh orang kusta.
1. Peristiwa Setelah Mengalami Penderitaan
Terkadang di dalam hidup, respons kita sama seperti kesembilan orang kusta yang sudah disembuhkan. Kita lupa kepada SUMBER kehidupan dan pemberi kesembuhan.
Seringkali kita berharap Tuhan menolong secepat mungkin, namun saat penderitaan panjang akhirnya dijawab, kita malah lupa kepada Pencipta kita.
Pikiran kita sering terfokus pada diri sendiri dan kesibukan, bukan pada Kristus yang menyembuhkan.
Untuk datang kepada Tuhan, kita harus datang dengan hati yang hancur. Kesibukan pekerjaan atau bisnis tidak bisa menggantikan waktu bersama Tuhan Yesus.
Gereja bukan hanya "di hati", tetapi kita harus hadir secara fisik untuk menguduskan hari-Nya.
Ada banyak alasan dalam hidup yang membuat kita lupa menyembah Tuhan, padahal Tuhan sangat menyukai penyembahan dari kita.
2. Kesulitan Mengucap Syukur dan Menyenangkan Hati Tuhan
Seringkali kita sulit merespons kebaikan Tuhan dengan ucapan syukur dan terima kasih, serta sulit untuk terus menyukakan hati Tuhan setelah kita diberkati.
Padahal, Roh Kudus selalu siap memberkati kita.
Dari 10 orang kusta, hanya satu orang Samaria yang kembali kepada Tuhan.
Orang Samaria adalah warga kelas dua bagi orang Israel, dianggap remeh dan di luar hitungan. Namun, orang yang dianggap remeh inilah yang justru Tuhan perhatikan dan sukai karena ia tidak sibuk dengan urusan duniawinya sendiri.
Bagian kita dan tujuan hidup kita adalah menyenangkan hati Tuhan.
Mintalah kepada Tuhan waktu khusus untuk bersekutu dengan-Nya, karena inilah yang Tuhan tunggu-tunggu.
Kita harus sadar bahwa hidup kita berasal dari Tuhan. Ketika kita memilih Tuhan dan menomorsatukan Yesus, kita mendapatkan kehidupan kekal dan Ia akan menyediakan tempat bagi kita.
Tuhan selalu menyediakan pemeliharaan dan kemurahan-Nya tepat pada waktunya.
Kuatkan dan teguhkan hati kita untuk terus berdiri tegak di hadapan Tuhan.
3. Kenapa Hanya Satu Orang yang Mengucap Syukur?
Lukas 17:18-19 — "Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini? Lalu Ia berkata kepada orang itu: Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."
Orang ini kembali mengucap syukur supaya ia mendapatkan kekuatan kembali dari Tuhan.
Keselamatan dan kekuatan datang dari IMAN yang bergantung sepenuhnya kepada Yesus, bukan dari status sosial.
Hidupnya benar-benar berharap dan bergantung kepada Tuhan.
Ketika kita bersyukur, kita akan melihat bahwa berkat Tuhan jauh lebih besar daripada masalah kita.
4. Mengenal Siapa Yesus
Lukas 17:12-13 — "Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: 'Yesus, Guru, kasihanilah kami!'"
Ada seruan panggilan yang kuat: "Yesus". Kata "Guru" di sini bermakna "Master" atau "Tuan", yang menunjukkan penghormatan tertinggi dan sebuah bentuk penyembahan kepada Yesus.
Kesepuluh orang kusta ini (termasuk orang Samaria) berteriak dengan suara keras karena mereka sadar bahwa Yesus adalah satu-satunya harapan mereka.
Teriakan mereka membuktikan bahwa mereka tahu persis siapa Yesus sebenarnya.
Pengenalan akan Tuhan membuat iman kita bertambah kuat. Seperti perkataan Rasul Paulus: "Yang kuhendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya."
Kita harus tahu siapa yang hidup dan membela hidup kita.
Kita hanya berharap kepada Tuhan Yesus, bukan kepada manusia, karena kita tahu betapa hebatnya Tuhan di dalam hidup kita.
5. Tahu Diri Setelah Ditolong Tuhan
Lukas 17:15-16 — "Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria."
Setelah ditolong oleh Yesus, kita harus memiliki dua sikap hati:
TAHU YESUS: Mengenal Pribadi yang menyembuhkan dan memelihara kita.
TAHU DIRI: Menyadari bahwa hidup kita sudah ditebus oleh Tuhan Yesus dengan harga yang mahal dan lunas dibayar.
Kita harus selalu mengingat siapa diri kita di masa lalu (saat kita miskin, lemah, dan tak berdaya) sebelum Yesus menolong kita.
Jangan menjadi congkak saat sudah diberkati; ingatlah bahwa semua berkat berasal dari Tuhan.
Tetaplah memikul salib dengan penuh ucapan syukur, karena salib yang Dia pasang di hidup kita sebenarnya adalah ringan ketika kita berjalan bersama-Nya.
Tuhan Yesus memberkati.