Belajar dari hidup KISAH PARA RASUL — Catatan Khotbah Ibadah Raya 26 Juli 2026

Ps. Aruna Wirjolukito
Belajar dari hidup KISAH PARA RASUL
Kita ada di dalam rumah Tuhan yang luar biasa, jangan takut dengan kondisi dunia saat ini.
Kitab Kisah Para Rasul adalah standar hidup orang percaya. Bandingkan hidup kita dengan apa yang tertulis di dalamnya.
Apakah kisah hidup kita saat ini sesuai dengan yang ada di Kisah Para Rasul? Jika hidup kita kurang lebih sama, berarti kita ada di dalam rencana Tuhan.
1. Ada hal penting yang TIDAK BISA dititipkan kepada orang lain
Kita bisa menitipkan doa kepada orang lain.
Kita bisa menitipkan persembahan kepada orang lain.
Namun, ada dua hal yang harus dilakukan secara pribadi dan tidak bisa diwakilkan:
Ibadah.
Menyembah Tuhan.
Kalau kita menyembah secara pribadi, maka dihitung menyembah. Kalau tidak, ya tidak.
2. Pola di Perjanjian Baru: Komunikasi dan Negosiasi
Kisah Para Rasul 21:1 mencatat kisah perpisahan dengan Rasul Paulus.
Kisah Para Rasul 21:2-4 mencatat peringatan pertama melalui murid-murid di Tirus oleh bisikan Roh agar Paulus jangan pergi ke Yerusalem.
Paulus pernah mendengar suara dari Tuhan saat perjalanan ke Damsyik dan ia jatuh ke tempat "galah rangsang".
Tempat "galah rangsang" adalah tempat di mana kita merasa sendiri, terjepit, dan tidak dimengerti. Di titik inilah kita bisa bertemu dengan Tuhan secara pribadi dan benar.
Kisah Para Rasul 21:8-10 mencatat peringatan kedua di Kaisarea melalui orang-orang yang memiliki karunia bernubuat.
Kisah Para Rasul 21:11 — "Ia datang pada kami, mengambil ikat pinggang Paulus, lalu mengikat kaki dan tangannya sendiri katanya: 'Demikianlah kata Roh Kudus: Beginilah orang yang empunya ikat pinggang ini akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke dalam tangan bangsa-bangsa lain.'"
Meskipun banyak peringatan, Paulus tetap berkehendak kuat pergi ke Yerusalem. Di sinilah terlihat pola Perjanjian Baru: Tuhan membantu kita dalam segala hal, namun Ia tidak mengendalikan kita seperti robot. Tuhan perlu KOMUNIKASI dan ada negosiasi dengan kita.
Kisah Para Rasul 23:11 — "Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: 'Kuatkan hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma.'"
Tuhan sendiri yang datang langsung kepada Paulus. Inilah pola Perjanjian Baru, komunikasi langsung dari Tuhan secara dua arah. Tuhan tidak membatalkan, melainkan meneguhkan keberanian Paulus di Yerusalem sebagai landasan untuk tugas ke Roma.
3. Fokus Penginjilan dan Pertobatan
Firman Tuhan dimulai dari kota Efesus, sebuah kota yang penuh dengan penyembahan berhala.
Paulus memberitakan Injil di Efesus dengan dua fokus utama:
Berbicara tentang baptisan air yang benar.
Pengenalan akan Roh Kudus.
Tuhan membuat perkara yang kecil menjadi besar, hingga akhirnya Efesus menjadi kota yang besar di dalam Tuhan.
Pertobatan adalah hal yang sangat penting. Kita harus terus ngobrol dengan Tuhan dan berani bersaksi tentang Tuhan Yesus seperti Paulus.
Prinsip Tuhan Yesus benar. Hari-hari ini, pergilah untuk menginjil. Berdoalah kepada Tuhan, minta turunkan kemurahan Tuhan atas Indonesia.
4. Pertobatan Terjadi di Tengah Krisis dan Resesi
Sejarah membuktikan bahwa pertobatan besar sering terjadi jika dibarengi masa krisis, contohnya saat peristiwa G30S PKI terjadi pertobatan yang besar.
Saat ini dunia sedang menghadapi ancaman resesi. Jangan takut dengan kondisi yang sulit, karena di balik ini ada peluang penuaian jiwa-jiwa yang bertobat.
Pertobatan besar akan terjadi di Indonesia dan di bangsa-bangsa lainnya.
5. Sebuah Visi: Menyelesaikan Amanat Agung
Kita memiliki visi untuk menyelesaikan Amanat Agung pada tahun 2033.
Tujuannya hanya satu: waktu kita semakin habis.
Hiduplah berjalan bersama Tuhan dan isilah hari-hari kita dengan nego-nego (berkomunikasi) bersama Tuhan.
6. Menghadapi Tekanan dengan Hikmat dan Hubungan yang Erat
Hari ini, kondisi di semua bangsa sedang mengalami tekanan. Konsep utama kita saat ini adalah terus menginjil.
(Seperti kisah di kitab Yehezkiel, di mana ia disuruh berbaring dan mengambil kotoran manusia lalu membakarnya menjadi makanan—ada masa-masa sulit dan tekanan yang harus dilalui umat Tuhan).
Kisah Para Rasul mengajarkan tentang betapa hebatnya memiliki hubungan yang erat bersama dengan Tuhan Yesus.
Gunakan hikmat yang Tuhan beri. Saat Paulus hendak disesah, ia menggunakan statusnya dan bertanya, "Memang boleh orang Roma disesah?" (Orang Roma tidak boleh disesah tanpa pengadilan). Ini adalah pola hikmat yang dipakai Paulus untuk lolos dari bahaya.
Anugerah Tuhan sangat besar. Kita harus BERSIAP memasuki masa-masa ini agar kita ikut naik dalam pengangkatan bersama Yesus.
Ubah pola doa kita: Berdoalah dan bernegosiasi dengan Tuhan untuk jiwa-jiwa (hal yang hidup), bukan sekadar untuk hal-hal duniawi yang mati.
Tuhan Yesus memberkati.