Baik belum tentu BENAR — Catatan Khotbah Ibadah Raya 18 Oktober 2026

Ps. Billy Lantang
Baik belum tentu BENAR
2 Korintus 10:5 — "Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus."
- Hati-hati dengan hidup kita sebagai anak Allah. Jangan pernah ditipu oleh si jahat yang secara pelan-pelan menyusupi kehidupan kita.
- Iblis sering memutarbalikkan prinsip "Jalan, Kebenaran, dan Hidup". Manusia sering membenarkan apa yang ingin ia lakukan terlebih dahulu, baru mencari jalannya sendiri.
- Banyak orang membangun kubu dengan kesombongan manusia yang menentang pengenalan akan Tuhan. Moral dihancurkan oleh iblis.
Kemenangan kemarin tidak bisa dibawa untuk hari besok
- Daud mengalahkan Goliat dengan batu umban, tetapi saat dikejar Saul, ia butuh pedang Goliat untuk proteksi diri. Pertempuran hari ini membutuhkan kekuatan yang baru.
- Selesaikan saat teduh kita setiap hari sebelum keluar dari kamar pribadi kita.
Tuhan tetap adalah Tuhan yang dahsyat
- Sekalipun kehancuran dunia berjalan, pertobatan tetap berjalan juga. Pertumbuhan kekristenan di Indonesia bersifat masif.
- Kehidupan bersama dengan DIA adalah segala-galanya. Warisan yang terhebat adalah Firman Tuhan.
Kebohongan si iblis mulai diketahui, berhati-hatilah terhadap hal-hal berikut:
1. Pragmatisme
Pragmatisme memunculkan pola pikir: "Sesuatu yang saya anggap praktis dan baik adalah benar."
Padahal, sesuatu yang baik belum tentu benar. Tetapi di dalam KEBENARAN, pasti ada kebaikan.
Analogi jalan ke Surabaya: Jalan yang benar adalah ke arah timur meskipun jalannya mungkin rusak. Jalan yang mulus dan lebar tapi ke arah barat adalah jalan yang salah. Contoh lain: Masuk bahu jalan tol karena dianggap cepat, padahal salah dan bisa berakibat fatal.
Kebenaran Firman Tuhan itu seperti jalan yang sempit. Sedikit yang memasukinya dan kita harus sabar.
Saat masuk ke jalan sempit, mau tidak mau kita terpaksa mementingkan orang lain. Di jalan yang sempit inilah karakter kita sedang dibentuk.
Seperti mobil naik tanjakan, harus pakai gigi 1. Terasa berat, tapi ujungnya membawa kita naik ke atas.
Mazmur 73: Jangan banding-bandingkan hidup kita dengan orang lain yang kelihatannya "enak". Orang yang meluncur ke bawah kelihatannya mudah, tapi tujuannya menuju maut. Kita yang sedang menaati Firman Tuhan adalah orang yang sangat diberkati.
Amsal 14:12 — "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut."
2. Relativisme
Relativisme memunculkan pola pikir: "Yang benar menurut kamu, belum tentu benar buat saya."
Sesuatu yang salah seringkali dianggap benar hanya karena dilakukan ramai-ramai. Padahal, Firman Tuhan adalah kebenaran yang absolut.
Contoh merespon konflik: Dunia mengajarkan silent treatment atau buang muka. Alkitab mengajarkan untuk saling mendoakan dan menyapa duluan.
1 Korintus 2:14 — "Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani."
Bagi dunia ketaatan ini adalah kebodohan, tapi bagi kita yang melakukannya, kita justru dimerdekakan.
3. Materialisme dan Hedonisme
1 Timotius 6:7 — "Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar."
Ketika kita lahir dan kembali kepada Tuhan, kita datang dan pulang tidak pernah pakai baju (telanjang). Kita tidak bisa memilih baju saat lahir, dan tidak bisa protes memilih apapun yang kita suka ketika sudah berada di peti mati.
Hati-hati dengan gaya hidup kita. Jangan sampai hobi, materi, atau hal-hal "baik" dijadikan BERHALA di hidup kita. Jiwa seorang pelayan jauh lebih berharga daripada barang mahal.
Waspada mentuhankan hal yang baik. Kesaksian Ps. Billy: Sempat mentuhankan pola hidup sehat. Saat divonis kanker, ia bertobat dan sadar bahwa pola hidup sehat hanyalah alat untuk mempersembahkan tubuh, bukan sesuatu yang diandalkan melebihi Tuhan.
1 Timotius 6:5 — "...percecokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang tidak lagi mengenal kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan."
Waspada terhadap hedonisme dan teologi kemakmuran yang mengira ibadah adalah sumber keuntungan materi. Ini membuat banyak orang kecewa pada Tuhan saat doanya tidak dijawab sesuai keinginan.
1 Timotius 6:6 — "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar."
Yang kita kejar adalah TUHAN-nya
Yang seharusnya kita kejar bukanlah sekadar jawaban doa atau kenyamanan hidup, melainkan penyertaan dan PENGALAMAN pribadi dengan Tuhan.
Amsal 13:12 — "Harapan yang tertunda menyedihkan hati, tetapi keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan."
"Pohon kehidupan" yang sesungguhnya adalah persekutuan dengan Tuhan secara kekal.
Ada orang yang hidup pas-pasan secara materi, tetapi selalu dicukupkan Tuhan di masa sulit sehingga ia bisa bersaksi, "Di dalam kelemahanku, kuasa Tuhan dinyatakan." Bandingkan dengan orang yang punya segalanya secara materi tetapi memilih mengakhiri hidupnya.
Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Hanya Firman Tuhan yang bisa menopang hidup kita selamanya.
Tuhan Yesus memberkati.